Bermimpi untuk kuliah di Australia? Negeri Kangguru ini memang menjadi salah satu destinasi favorit mahasiswa internasional. Namun, di balik keindahan kota-kotanya yang modern dan kampus-kampus bergengsi, ada satu tantangan yang sering kali mengejutkan: culture shock.
Jika kamu sedang bersiap untuk studi di Australia, memahami kejutan budaya yang mungkin akan kamu alami bisa membantumu beradaptasi lebih cepat. Yuk, simak 5 contoh culture shock di Australia yang sering dialami mahasiswa internasional!
Apa Itu Culture Shock?
Culture shock adalah perasaan bingung, terkejut, atau bahkan stres yang dialami seseorang ketika berhadapan dengan budaya yang sangat berbeda dari yang biasa mereka jalani. Ini bisa mencakup cara berkomunikasi, kebiasaan sosial, pola makan, sistem pendidikan, hingga norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat setempat.
Pada tahap awal, culture shock sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman dan canggung karena perbedaan yang signifikan. Sebagai contoh, mahasiswa internasional mungkin merasa kesulitan memahami aksen atau istilah slang yang digunakan oleh penduduk lokal, mengalami kebingungan dalam memahami etika sosial yang berbeda, atau bahkan merasa rindu dengan makanan dari negara asalnya.
Mengalami culture shock adalah hal yang wajar dan merupakan bagian dari proses adaptasi. Biasanya, seseorang akan melewati beberapa tahap dalam culture shock, mulai dari euforia awal (honeymoon phase), masa frustasi akibat kesulitan beradaptasi (negotiation phase), hingga akhirnya mulai merasa nyaman dan terbiasa dengan budaya baru (adjustment phase). Semakin terbuka dan aktif seseorang dalam memahami budaya baru, semakin cepat pula mereka dapat melewati culture shock dan menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.
Apa Contoh Kejutan Budaya di Australia?
Ada banyak kejutan budaya yang mungkin kamu alami saat tinggal di Australia. Berikut beberapa di antaranya:
1. Gaya Hidup yang Santai dan Kasual
Di Australia, orang-orang memiliki gaya hidup yang santai dan cenderung tidak terlalu formal dalam berpakaian. Bahkan, di lingkungan profesional sekalipun, pakaian kasual seperti kaos dan celana pendek bisa diterima, terutama di kota-kota pesisir seperti Sydney dan Melbourne. Selain itu, gaya berbicara mereka juga lebih santai. Kamu mungkin akan terkejut saat melihat mahasiswa memanggil dosennya dengan nama depan tanpa embel-embel “Prof” atau “Dr.”—hal ini dianggap sebagai tanda kesetaraan dan keterbukaan.
2. Sistem Pendidikan yang Berbeda
Di Australia, mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri dalam belajar. Dosen berperan sebagai fasilitator yang memberikan arahan, tetapi mahasiswa harus aktif mencari sumber belajar sendiri. Misalnya, dalam satu semester, kamu mungkin hanya memiliki beberapa ujian tertulis, tetapi harus menyelesaikan banyak tugas berbasis riset dan analisis kritis. Selain itu, sistem penilaian di Australia juga menggunakan skala yang berbeda, dengan istilah seperti High Distinction (HD) dan Credit (C), yang mungkin membingungkan bagi mahasiswa internasional di awal perkuliahan.
3. Budaya “Membayar Sendiri” Saat Makan Bersama
Di Indonesia, kita terbiasa dengan sistem “traktiran” atau berbagi tagihan, tetapi di Australia, konsep “split the bill” adalah norma. Artinya, setiap orang membayar sendiri apa yang mereka pesan, tanpa ada ekspektasi untuk ditraktir oleh teman atau senior. Misalnya, jika kamu makan siang bersama teman-teman setelah kuliah dan total tagihan mencapai AUD 100, maka setiap orang akan membayar sesuai dengan makanan dan minuman yang mereka pesan, bukan dibagi rata atau ditanggung oleh satu orang.
4. Cara Berbicara yang Blak-blakan
Orang Australia terkenal dengan gaya komunikasi yang langsung dan apa adanya. Mereka tidak suka bertele-tele dan lebih menghargai kejujuran dibanding basa-basi. Misalnya, jika kamu bertanya kepada seorang teman, “Apakah esai saya bagus?”, mereka mungkin akan langsung menjawab, “Saya rasa ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki,” tanpa merasa harus menyenangkan perasaanmu terlebih dahulu. Bagi sebagian mahasiswa internasional, terutama yang berasal dari budaya yang lebih sopan dan diplomatis, gaya komunikasi ini bisa terasa sedikit mengejutkan.
5. Budaya Minum yang Kuat
Minum alkohol adalah bagian dari budaya sosial di Australia, terutama di kalangan mahasiswa. Banyak pertemuan sosial, baik yang diadakan oleh kampus maupun acara pribadi, melibatkan minuman beralkohol. Misalnya, di banyak klub mahasiswa, “Friday Drinks” adalah tradisi di mana anggota berkumpul di bar setelah kelas untuk bersosialisasi. Jika kamu tidak nyaman dengan budaya ini, jangan ragu untuk menolak dengan sopan. Orang Australia umumnya menghargai pilihan individu, jadi cukup katakan, “Saya tidak minum, tapi saya tetap ingin ikut ngobrol!” dan mereka akan menghormatinya.
Bagaimana Cara Mengatasi Culture Shock di Australia?
Jika kamu mengalami culture shock, jangan khawatir! Berikut beberapa tips untuk membantumu beradaptasi lebih cepat:
- Buka diri terhadap pengalaman baru – Terimalah bahwa perbedaan budaya adalah sesuatu yang alami. Jangan menutup diri terhadap kebiasaan baru yang mungkin terasa asing di awal.
- Jangan takut bertanya – Jika ada sesuatu yang membingungkan, tanyakan kepada teman lokal atau sesama mahasiswa internasional. Banyak orang Australia yang ramah dan bersedia membantu jika kamu menghadapi kesulitan.
- Bangun komunitas – Bergabunglah dengan organisasi mahasiswa atau komunitas Indonesia di Australia agar kamu merasa lebih nyaman. Mempunyai support system dari orang-orang yang memahami pengalamanmu bisa sangat membantu dalam proses adaptasi.
- Kelola ekspektasi – Pahami bahwa akan ada hal-hal yang tidak selalu sesuai dengan harapan atau kebiasaan di negara asalmu. Tetaplah fleksibel dan terbuka untuk belajar.
- Jaga kesehatan mental – Jika merasa tertekan atau kewalahan, jangan ragu untuk mencari dukungan, baik dari teman, keluarga, atau layanan konseling kampus. Banyak universitas di Australia menyediakan layanan kesehatan mental yang bisa diakses oleh mahasiswa internasional.
Menghadapi culture shock saat pertama kali tinggal di Australia adalah pengalaman yang wajar bagi mahasiswa internasional. Perbedaan dalam gaya hidup, sistem pendidikan, kebiasaan sosial, hingga pola komunikasi sering kali menjadi tantangan tersendiri. Seperti yang telah dibahas dalam lima contoh culture shock di Australia yang dialami mahasiswa internasional, adaptasi terhadap budaya baru membutuhkan waktu dan keterbukaan. Namun, dengan sikap fleksibel, kemauan untuk belajar, serta dukungan dari lingkungan sekitar, mahasiswa dapat menyesuaikan diri dan menikmati pengalaman berharga selama studi di Australia. Jadi, jangan takut menghadapi perubahan—anggap ini sebagai bagian dari petualangan baru yang akan memperkaya wawasan dan pengalaman hidupmu!
Jika kamu ingin mempersiapkan diri lebih baik sebelum berangkat ke Australia, Indies (Independent International Education Solution) hadir dengan program UNIPREP. Program persiapan studi ini dirancang untuk membekalimu dengan keterampilan akademis dan pemahaman budaya yang dibutuhkan agar sukses dalam perjalanan pendidikan di luar negeri. Salah satu modul unggulan dalam UNIPREP adalah “Adapting to University Life”, yang akan membantumu memahami perbedaan budaya kelas di Indonesia dan budaya kelas internasional. Dengan modul ini, kamu akan belajar bagaimana berpartisipasi dalam diskusi akademik, memahami ekspektasi dosen, serta menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran yang lebih mandiri.Mulai dari kesiapan akademis hingga adaptasi budaya, UNIPREP memberikan dukungan menyeluruh agar kamu lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan di lingkungan baru. Jangan biarkan culture shock menghambat pengalaman belajarmu—persiapkan dirimu bersama Indies dan raih kesuksesan akademismu di Australia!